Pages - Menu

Monday, April 8, 2019

Hutanku Lestari Jiwaku Asri, Hutanku Sedih Jiwaku Mati

Indonesia Menanam.
One Man One Tree.
Go Green!
Jaga Hutan!
Lestari Hutan

Apa lagi tagline yang pernah teman-teman dengar untuk menjaga, menyelamatkan dan melestarikan hutan?
Memangnya ada apa dengan hutan? Apa kabar hutan Indonesia? Apakah baik-baik saja?

hmmm... sejak dulu telah banyak dicanangkan upaya untuk menjaga, menyelamatkan dan melestarikan hutan. Berhasilkah? Mungkin belum sesuai dengan apa yang diharapkan, karena semakin banyak upaya untuk hutan menjadi lebih baik dan berdiri di tempatnya, semakin banyak pula ulah manusia yang menjadikan hutan murka. 

Sabtu yang lalu 23 Maret 2019, di Kuto Besak Theatre Restaurant (KBTR), saya hadir ke acara talkshow dengan tema "Menuju Pengelolaan Hutan Lestari" yang digagas oleh Yayasan DR. Sjahrir (YDS) dan Climate Reality Indonesia. Diskusi santai tetapi berbobot membuat saya senang karena mengetahui kondisi terkini tentang hutan tetapi sekaligus sedih karena tau gimana keadaan hutan saat ini. Hutan kita lagi sekarat! huft... 

Diawali oleh Ibu Dr.Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia yang mengingatkan akan kejadian suhu ekstrim yang terdampak pada 60 juta orang di Amerika dengan suhu -40 Celcius dan Australia +50 Celcius. Bisa dibayangkan bagaimana dingin dan panasnya suhu tersebut. Saya mendengar berita ini bahwa beberapa orang ditemukan tewas membeku di garasi dan jalan raya diakibatkan dilanda suhu ekstrim. Yang jelas tidak ada lagi keinginan untuk menikmati indahnya musim dingin jika suhu mencapai minus 40 celcius. Semoga tidak terulang lagi kejadian seperti itu. aamiin.

Keadaan Indonesia
Di Indonesia telah mengalami 2481 bencana, 97% hidrometereologi, 10 juta orang menderita dan mengungsi. Kenyataan tersebut adalah dampak dari kegiatan manusia yang berlebihan sehingga menimbulkan Pemanasan global dan perubahan iklim yang membuat dampak bencana dan penghidupan bagi manusia, tumbuhan dan hewan, kata Ibu Amanda. 
save today, survive tomorrow 
Kegiatan Manusia yang Berlebihan
Selanjutnya, beliau menjelaskan dari mana emisi gas rumah kaca Indonesia. 
Emisi gas rumah kaca di Indonesia, seperti pada gambar di atas paling banyak disebabkan oleh penggunaan lahan atau hutan. Penggunaan lahan dan pemanfaatan hasil hutan yang tidak bijak menyebabkan berbagai macam bencana yang telah terasa beberapa tahun terakhir ini. Penebangan pohon, pembakaran hutan menyebabkan banjir, tanah longsor dan kekeringan air tanah. Selain itu, perubahan iklim menyebabkan tinggi air laut dan suhu global meningkat, samudera memanas,menyebabkan kejadian ekstrem seperti di Amerika dan Australia, pengasaman samudera dan es meleleh. 

Dulu waktu saya masih di bangku SMA, guru menjelaskan bahwa es di Kutub Utara atau Selatan mulai mencair akibat pemanasan global. Hal tersebut menyebabkan air laut meningkat dan jika terus menerus demikian maka bumi akan tenggelam. Jika dulu sudah seperti itu, bagaimana dengan keadaan sekarang??? MasyaAllah... 
Save forests, save the climate!


Jika sistem global rentan iklim, maka berdampak pula dengan instabilitas politik dan sosial. Para petani akan gagal panen dan menyebabkan harga bahan pokok melambung tinggi, sulitnya air bersih, gangguan kesehatan bagi masyarakat, dan infrastruktur menjadi rusak akan mengakibatkan berbagai hal lainnya terganggu, ujar Ibu Amanda. 

Singkat cerita pengalaman saya dan teman-teman saya yang ditempatkan di berbagai pelosok negeri, karena berubahan iklim merasakan sulitnya pergi dari satu tempat ke tempat lainnya karena jalan atau jembatan yang rusak akibat tanah longsor, sulitnya air bersih karena kekeringan sehingga mandi memakai air galon, dan terkena penyakit malaria di beberapa daerah. Dan yang membuat hati ini menangis adalah penggunaan lahan-lahan (hutan) sekitar daerah pariwisata yang menyebabkan hutan tidak berfungsi dengan baik. Sayang sekali..... 

Solusi Perubahan Iklim
Yayasan DR. Sjahrir (YDS) dan Climate Reality Indonesia bersama-sama mengajak pemuda dan masyarakat untuk meningkatkan aksi nyata menghadapi perubahan iklim global dan khususnya menjaga kelestarian hutan. Solusi dari perubahan iklim ini yaitu mitigasi dan adaptasi. 
Langkah awal yang dapat dilakukan sebagai masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan dan menjadi bagian untuk mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim yaitu mengurangi penggunaan plastik, lebih banyak makan buah-buahan dan sayur-sayuran dari pada daging. Saya pernah membaca dan melihat berita bahwa orang di luar negeri ini mulai lebih banyak memakan sayur dan buah (menjadi vegetarian), saya tidak tau betul apa alasan untuk menjadi vegan selain keinginan seseorang itu sendiri ingin menjadi vegan. Tetapi ternyata mengurangi makan daging itu adalah suatu bentuk kontribusi untuk menjaga hutan tetap lestari.

Ternyata dengan mengurangi makan daging 8 juta hidup manusia pada 2050 dapat diselamatkan, menghemat biaya kesehatan dan kerusakan iklim 1,5 triliun dolar AS. "Hayoo nanti kita lihat menu makan siangnya banyak daging atau sayurnya", kata Ibu Amanda. Hehehe... 
we need forests, forests don't need us!
Ibu Dr. Amanda Katili Niode
Artisnya di sini adalah POHON, begitu kalimat yang saya ingat dari Ibu Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia. Beliau memberikan banyak pengetahuan baru bagi saya tentang pengembalian fungsi hutan untuk menjaga hutan tetap lestari. 
Ibu Dr.Atiek Widayati, Tropenbos Indonesia
Sebagai orang awam tentang ilmu kehutanan, saya mengartikan apa yang disampaikan oleh Ibu Atiek, begini.....
Hutan itu kan identik dengan pohon-pohon yang tinggi ya, nahh pohon-pohon itu bisa dibilang adalah penyelamat kelangsungan hidup bumi dan makhluk hidup lain seisinya. pohon mengikat struktur tanah yang lemah, mencegah dataran tinggi dari ancaman bencana tanah longsor, menyerap secara konsisten CO2 dari atmosfer dan mencegah bumi dari pemanasan global. Jika sang penyelamat (pohon) dihabiskan, bagaimana dengan kehidupan makhluk hidup di bumi ini???? Please be kind, human!
mengembalikan fungsi hutan dengan membuat pohon tetap tinggi
Kelestarian hutan adalah tanggung jawab bersama, tuhan menciptakan pohon dan menjadikannya hutan bukanlah tanpa alasan. Keseimbangan alam, hutan, dan makhluk hidup di bumi ini harus tetap dijaga demi kelangsungan hidup yang nyaman di bumi ini. 
Janganlah terulang lagi kejadian suhu ekstrem di beberapa negara atau kekeringan air tanah akibat perubahan iklim yang kian hari kian tidak pasti. Sudah selayaknya berbenah diri mengupayakan untuk mengembalikan fungsi hutan melalui pengelolaan lansekap berkelanjutan, seperti yang disampaikan oleh Ibu Atiek agar masyarakat dapat mengelola dan memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). 

Pemanfaatan HHBK dapat menghasilkan berbagai produk unggulan yang memiliki nilai ekonomis. Sehingga warga dapat bermatapencaharian sembari memelihara dan menjaga kelestarian hutan. 
Rotan, Madu Hutan, Kulit Pohon/Dedaunan
Pohon untuk Ekonomi Kreatif
Untuk fashion, banyak orang menilai bahwa fashion dari hasil alam itu lebih elegan, unik dan etnik. Setuju kan? Kalau saya setuju sekali. 

Ibu Ir. Murni Titi Resdiana, MBA selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Iklim yang menjelaskan bahwa kebijakan perubahan iklim berkaitan dengan upaya pemerintah untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan dengan upaya mengembangkan ekonomi kreatif melalui pengelolaan hutan lestari dan pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)Pengelolaan HHBK dapat menghasilkan berbagai macam produk kreatif, unik dan bernilai tinggi dan pemasaran produk HHBK ini diminati dari dalam negeri hingga internasional. 

Sekarang, trend fashion internasional yang berbau etnik sedang dan makin banyak diminati oleh masyarakat. Seperti kerajinan tekstil dari Galeri Wong Kito (GWK) yang menggunakan daun jati teknik eco print dan pewarna alam yang berasal dari akar atau kulit kayu. Kain yang digunakan adalah kain viscose (serat pohon) dan kain sutera sebagai produk unggulannya. Selain tekstil, GWK juga memproduksi kerajinan gelang dari kayu gaharu dan minyak atsiri yang telah diekspor ke berbagai negara. 
Koleksi kain Eco Print dari Galeri Wong Kito
Gelang Kayu Gaharu Galeri Wong Kito
Minyak Atsiri
Ada juga kerajinan dari Mellin Gallery yang memanfaatkan limbah potongan-potongan kayu yang diambil dari depot kayu pembuat kusen, pintu, dan lain-lain secara gratis saja. Kerajinan Mellin Gallery ini yaitu hiasan dinding atau miniatur khas Palembang. Setiap hari Mellin Gallery membuat pesanan konsumen yang biasanya dari kalangan pemerintah, yayasan dan lain-lain. 
Miniatur Ampera, Gantungan Kunci, dan Hiasan Dinding dari Mellin Gallery
Kemudian ada juga produk makanan dari bahan alami juga dipilih masyarakat karena produk tersebut menghindari resiko penyakit dan lebih menyehatkan. Walaupun terkadang harganya sedikit lebih mahal, "Saya kira masyarakat sekarang lebih memilih untuk hidup sehat dari pada membayar biaya sakit", ujar Ibu Murni. 
Ibu Ir. Murni Titi Resdiana, MBA
Seperti pameran dari Sinar Mas yang berkomitmen pada praktik bisnis berkelanjutan melalui aspek ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Bisnis dari brand Sinar Mas salah satunya adalah agribisnis dan pangan, sehingga pada mini exhibition kemarin menampilkan berbagai hasil dari pengelolaan HHBK berupa makanan ringan, minuman jahe dan sebagainya. Pemerintah Indonesia melakukan perubahan pendekatan dengan melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat. Program Perhutanan Sosial adalah salah satu peraturan yang mendukung peran masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari. 
Baca Juga: Menanam Pohon Untuk Ekonomi Kreatif


Desa Makmur Peduli Api (DMPA)

Perhutanan Sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial. Hal ini sejalan dengan Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dari APP Sinar Mas yang berkontribusi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca Indonesia dan mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan.
Bapak Janudianto, dari Asian Pulp and Paper Sinar Mas menyampaikan berbagai upaya dari DMPA untuk membangun desa tepi hutan agar dapat mengelola dan memanfaatkan perhutanan sosial. 
Bapak Janudianto, Asian Pulp and Paper Sinar Mas

Demo Masak Jejamuran dan Chicken Wings

Selesai acara, kami melihat demo masak dengan bahan jamur dan sayap ayam. Para ibu-ibu antusias melihat chef sedang memasak sambil mengintip resep ala chef.
foto

Teknik Eco Print dari Galeri Wong Kito
Hasil kain dengan teknik eco print ini memberikan kesan yang sangat unik, etnik dan natural sesuai dengan bentuk daun yang digunakan. Daun jati digunakan ketika demo teknik eco print pada kain viscose. Butuh kesabaran dan ketelitian pada saat proses mentransfer bentuk daun seutuhnya pada kain. Saya tertarik sekali untuk membuat karya dengan teknik eco print ini....hihii

Kesimpulan dari talkshow dengan tema "Menuju Pengelolaan Hutan Lestari" bersama Yayasan DR. Sjahrir dan Climate Reality Indonesia ini adalah semua yang berasal dari alam khususnya hutan sangat berguna untuk kebutuhan manusia. Kerusakan hutan yang telah terjadi janganlah diratapi, tetapi harus dapat memberikan solusi dengan mengembalikan fungsi hutan dalam berbagai aspek. Hal yang paling mendasar adalah mengubah kebiasaan dari diri sendiri untuk mengurangi sampah plastik dan menggunakan barang atau kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan agar dapat berkontribusi untuk menjaga hutan menjadi lebih baik dan tetap lestari. 

Hutanku Lestari Jiwaku Asri, Hutanku Sedih Jiwaku Mati.


Terimakasih kepada Yayasan DR. Sjahrir dan Climate Reality Indonesia yang telah memberikan banyak wawasan bagi saya untuk lebih mencintai hutan dan lingkungan serta ikut berkontribusi untuk menyebarluaskan solusi pengelolaan hutan lestari agar hutan Indonesia tetap lestari.
Foto Bersama Narasumber dan Bloggers

Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) merupakan organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan warisan DR. Sjahrir (Alm) dan bergerak di bidang Pendidikan, Kesehatan dan Lingkungan. Dalam dua tahun terakhir, YDS telah melaksanakan serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas kepada pemuda dan masyarakat akan pentingnya aksi nyata menghadapi perubahan iklim global, dan khususnya pentingnya menjaga kelestarian hutan. Salah satunya adalah talkshow bagaimana pengelolaan hutan lestari bersama Bloggers di beberapa kota dengan menampilkan mini exhibition  pada setiap keunggulan masing-masing daerah. Diharapkan kegiatan ini dapat disebar luaskan kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan hutan lestari di Indonesia. Kunjungi web Yayasan Doktor Sjahrir dan Lestari Hutan, instagram: @yayasandoktorsjahrir twitter: @ysjahrir untuk info lebih lanjut.

The Climate Reality Project Indonesia merupakan bagian dari The Climate Reality Project yang berbasis di Amerika Serikat dan dipimpin oleh Mantan Wakil Presiden Al Gore, memiliki lebih dari 300 relawan, yang disebut climate reality leader di Indonesia yang fokus dan aktif dalam melakukan sosialisasi perubahan iklim dan mendorong masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi. 






Thursday, March 28, 2019

Menanam Pohon untuk Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif sejak lima tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Meski belum bisa dikatakan signifikan, namun setiap tahun sektor ini setidaknya menyumbangkan 7.13% PDB terhadap total PDB nasional. Dari 16 subsektor ekonomi kreatif, kuliner, fesyen, dan kerajinan merupakan subsektor yang memberikan sumbangan nilai tambah tertinggi. (Sumber: beritagar.id)

Yups benar sekali semakin maju teknologi  digital lewat sosial media, kuliner, fesyen, dan kerajinan semakin ditunggu-tunggu  oleh masyarakat. Dalam dunia kuliner mulai dari info resep dan cara memasak, tempat makan yang direkomendasikan dari makanan yang dijual di pinggir jalan hingga restoran, makanan kekinian, serta mukbang ada penggemar setianya. Saya pun terkadang sering menghabiskan waktu nonton orang makan di instagram, hehehe...


Dalam dunia fesyen, so pasti selalu ditunggu-tunggu juga nih. Para desainer fesyen berlomba-lomba membuat tren tiap tahun, dan untuk moment-moment tertentu misalnya hari raya idul fitri, natal, atau perubahan musim di luar negeri juga selalu up to date. Dengan begitu, masyarakat atau pecinta fesyen juga setia dan selalu antusias terhadap berbagai macam perubahan tren tiap tahunnya. 


Untuk kerajinan atau craft ini menurut saya adalah sesuatu yang istimewa karena Indonesia adalah negara yang memproduksi berbagai macam kerajinan yang memiliki nilai seni yang tinggi. Mengapa demikian? Karena setiap motif atau bentuk pada satu kerajinan memiliki arti atau makna filosofi yang tinggi. Pembuatannya pun juga dari tangan-tangan ahli yang yang dibuat secara manual. Oleh karena itu, barang-barang kerajinan Indonesia diminati para pecinta seni baik dari dalam maupun  luar negeri. 


Di acara talkshow Forest Talk With Blogger "Menuju Pengelolaan Hutan Lestari" yang digagas oleh Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) dan Climate Reality Indonesia di Kuto Besak Theatre Restaurant (KBTR), Sabtu, 23/03/'19 memberikan banyak ilmu tentang pentingnya pengelolaan hutan lestari di Indonesia. Bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini mungkin adalah salah satu dampak akibat pengelolaan hutan yang kurang bijak. Catatan saya tentang Pentingnya menjaga hutan merupakan bentuk dukungan saya pada peringatan hari hutan sedunia pada 21 Maret yang lalu. 


Dalam talkshow ini, hadir beberapa pembicara yang memaparkan tentang pengelolaan  hutan lestari dan pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) agar dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa merusak hutan agar tetap lestari. Pada artikel ini secara khusus saya menuliskan tentang materi yang disampaikan oleh Ibu Ir. Murni Titi Resdiana, MBA selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Iklim yang menjelaskan bahwa kebijakan perubahan iklim berkaitan dengan upaya pemerintah untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan dengan upaya mengembangkan ekonomi kreatif. 

Hal ini sangat menarik bagi saya karena saya sangat cinta terhadap hasil kerajinan atau olahan yang berasal dari alam.  Pengelolaan HHBK dapat menghasilkan berbagai macam produk kreatif, unik dan bernilai tinggi. Pemasaran produk HHBK diminati dari dalam negeri hingga internasional. 

Apa sih hubungan menanam pohon dengan ekonomi kreatif? 

Temen-temen pasti ingat waktu di bangku sekolah dulu manusia yang hidup di zaman awal kehidupan manusia, memakai pakaian dari kulit kayu, serat pohon atau serat-serat tumbuhan. Kebutuhan manusia akan pakaian tercukupi oleh sumber tanaman. 


Zaman semakin maju dan berkembang, manusia pun juga semakin cerdas dengan penemuan-penemuan untuk kelangsungan hidupnya. Kebutuhan manusia saat ini berasal dari berbagai macam jenisnya. Sandang, pangan, dan papan sudah menggunakan bahan-bahan buatan, tidak lagi menggunakan bahan dari alam. Dengan begitu, produksi sampah atau limbah yang sulit dihancurkan oleh mikroorganisme alam membuat alam menjadi kurang akrab dengan manusia. 

Tuhan menciptakan manusia dengan alam untuk dapat hidup secara berdampingan dan bersamaan. Manusia diharapkan mampu memanfaatkan apa yang ada di alam dengan baik. Saya ga ceramah lhoo... tapi iyes kann... Hehehe 

Pohon berasal dari alam, so pasti sesuatu yang diproduksi dari bahan alam ramah lingkungan. Jika dimanfaatkan dengan baik dan bijak, pohon dapat menjadi sumber untuk berbagai kebutuhan manusia dan menjadi salah satu sumber ekonomi kreatif untuk meningkatkan ekonomi lokal pada setiap daerah yang memiliki keunggulan dari tumbuh-tumbuhan atau pohon yang yang dimiliki oleh setiap daerah.

Pohon untuk ekonomi kreatif, seperti yang dipaparkan oleh Ir. Ibu Murni Titi Resdiana, MBA, pada acara Forest Talk with Blogger "Menuju Pengelolaan Hutan Lestari" di KBTR sabtu lalu, diantaranya;
  • Pohon Sumber Serat 
  • Pohon Sumber Pewarna Alam 
  • Pohon Bahan Kuliner 
  • Pohon Sumber Furniture
  • Pohon Sumber Barang Dekorasi dan Kerajinan
  • Pohon Sumber Minyak Atsiri
  • Pohon Sumber Energi Terbarukan

Pohon Sumber Serat 
Bahan baku pulp and paper berasal dari kayu. Selain itu tanaman-tanaman penghasil serat lainnya yang berasal dari batang dan daun atau lebih dikenal dengan serat bundel. Serat bundel tersebut berasal dari tanaman diantaranya tanaman kenaf, agave (sisal), rami, jute dan rosela. Serat bundel dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan karung, matras dan kerajinan tangan atau sebagai bahan baku industri, seperti industri komposit, geotekstil, tekstil, dan pulp paper. Untuk tekstil serat tumbuhan yang dapat digunakan adalah serat bambu, pelepah pisang, dan lain-lain.
berbagai jenis serat sebagai bahan penyusun benang. (Foto: www.berbagaireviews.com)
Galeri Wong Kito (GWK) meramaikan acara talkshow Forest Talk With Blogger dengan menampilkan hasil produk GWK berupa kerajinan tekstil yang memanfaatkan HHBK. Contohnya bahan tekstil yang dipakai yaitu kain viscose yang terbuat dari celulosa yang diperoleh dari pulp kayu.
kain viscose dan katun sutera alam proses pembuatan kain jumputan
Pohon Sumber Pewarna Alam
Pohon sebagai sumber pewarna alam tentunya bukan rahasia umum lagi ya. Banyak sekali hasil kerajinan yang menggunakan pewarna alam terutama untuk kerajinan tekstil. Sumber pewarna alam ini diantaranya dari daun jati menghasilkan warna merah, kulit secang (merah dan coklat), indigofera (biru), akar mengkudu (merah), kunyit (kuning), dan sebagainya. Warna yang dihasilkan dari pewarna alam biasanya terlihat lebih mewah, etnik dan unik. 

Seperti kain-kain dari Galeri Wong Kito yang dipamerkan pada acara Forest Talk with Blogger di KBTR Sabtu lalu. Dengan teknik ecoprint, dapat menghasilkan motif yang unik membuat kain ini dalam pemasarannya memiliki nilai jual tersendiri. 
Cantik-cantik bangeeet. Ibu Amanda langsung beli lho waktu berkunjung ke stand Galeri Wong Kito. Harga satu lembar kain produk GWK dibanderol dengan harga mulai dari Rp.600.000 hingga Rp.850.000 per lembar.


Pohon Bahan Kuliner
Musim hujan makan nasi jamblang dibungkus dengan daun jati ditambah wedang secang dari kayu secang, hmmm nikmatnyaaa. Yups, nasi jamblang akan lebih nikmat aromanya karena daun jati dan pastinya lebih sehat dan aman dibandingkan pembungkus plastik atau kertas nasi ditambah dengan wedang secang menyimpan segudang khasiat yang dipercaya untuk mengobati berbagai penyakit. 
wedang secang. (Foto: www.estrilook.com)
nasi jamblang. (Foto: bangs1970.blogspot.com)
Selain itu kelapa dan nipah juga menjadi sumber untuk gula dan bioethanol. Ada juga pameran dari Sinar Mas yang berkomitmen pada praktik bisnis berkelanjutan melalui aspek ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Bisnis dari brand Sinar Mas salah satunya adalah agribisnis dan pangan, sehingga mini exhibition kemarin menampilkan berbagai hasil dari pengelolaan HHBK berupa makanan ringan, minuman jahe dan sebagainya. Semua yang berasal dari alam sangat berguna untuk kebutuhan manusia. bijaklah!


Pohon Sumber Furniture
Furniture atau perabot yang bahan bakunya dari pohon atau kayu tidak pernah lekang oleh waktu. Meskipun telah banyak perabot yang menggunakan bahan bukan kayu, bahan kayu tetap menjadi nomor satu. Kayu jati, kayu bambang, rotan, hingga bambu dibuat menjadi berbagai macam perabot rumah tangga seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur dan sebagainya. 

Pohon Sumber Barang Dekorasi dan Kerajinan Tangan

Dekorasi interior rumah tidak selalu membutuhkan biaya yang besar. Dengan kreatifitas serta niat untuk mempercantik rumah dapat dibuat sendiri dengan memanfaatkan alam. Misalnya menggunakan ranting pohon. Bentuk ranting pohon yang terbentuk secara alami memberikan kesan yang natural. Seperti contoh dekorasi yang saya ambil pada artikel Country Living dibawah ini.


Sebagai bahan kerajinan, banyak sekali kita jumpai kerajinan yang memanfaatkan pohon atau hasil alam. Misalnya rotan dan lontar, yang dianyam menjadi tas, topi, piring, bakul, tikar, dan sebagainya. Kemudian pemanfaatan kayu bekas yang dijadikan oleh Mellin Galeri yaitu hiasan dinding atau miniatur khas Palembang. Setiap hari Mellin Gallery membuat pesanan konsumen yang biasanya dari kalangan pemerintah, yayasan dan lain-lain.
Produk dari Mellin Gallery
Produk dari Mellin Gallery
Gelang Kayu Gaharu dari Galeri Wong Kito
Pohon Sumber Minyak Atsiri
Minyak atsiri  dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang merupakan bahan yang bersifat mudah menguap (volatile), mempunyai rasa getir, dan bau mirip tanaman asalnya yang diambil dari bagian-bagian tanaman seperti daun, buah, biji, bunga, akar, rimpang, kulit kayu, bahkan seluruh bagian tanaman. 

Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor agroindustri potensial yang dapat menjadi andalan bagi Indonesia untuk mendapatkan devisa. Data statistik ekspor-impor dunia menunjukan bahwa konsumsi minyak atisiri dan turunannya naik sekitar 10% dari tahun ke tahun. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh perkembangan kebutuhan untuk industri food flavouring, industri komestik dan wewangian.

(Sumber: Minyak Atsiri)

Waktu acara Forest Talk with Blogger, saya bertanya di Galeri Wong Kito (GWK) tentang minyak atsiri yang dihasilkan mereka. Untuk 1ml pure minyak atsiri harganya dibanderol dengan harga lebih kurang 3 juta rupiah. Wowww..... Terkejut saya terheran-heran pokoknya. 


GWK mengekspor minyak atsiri mereka ke berbagai negara seperti Amerika, Arab Saudi, dan Singapur. Negara-negara tersebut menggunakan minyak atsiri untuk membuat parfume


Pohon Sumber Energi Terbarukan

Bayangkan kalau hasil bumi kita misalnya batubara dikeruk habis-habisan. Apakah bumi kita akan tetap bertahan dengan baik? (Jawablah didalam hati masing-masing). 
Kaliandra Merah (Foto: alampriangan.com)
Ada yang tahu dengan tanaman kaliandra merah? Mungkin teman-teman pernah menjumpainya di semak-semak. Yups.. kaliandra merah merupakan tanaman semak yang mudah tumbuh saat musim penghujan atau kering. Kini kaliandra bisa diolah menjadi energi terbarukan (EBT). Sumber olahan palet kayu kaliandra digadang bisa menjadi bahan EBT biomassa pembangkit listrik hingga 10 Megawatt. 
Ilustrasi Pelet Kayu (Foto: forestforlife.web.id)
Batang basah Kaliandra mampu menghasilkan energi panas 4600 kkl/Kg. Sedang saat sudah kering menghasilkan kkl/Kg panas. Panas ini setara dengan panas rerata batubara. Sehingga prospek olahan pelet kayu kaliandra dapat dijadikan EBT biomassa ramah lingkungan untuk tanah air. Di Indonesia EBT telah dicanangkan pemerintah dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN). 
(Sumber: Kaliandra Merah)


Memanfaatkan hutan dan pohon sebagai sumber kebutuhan dalam kehidupan bukan berarti menebang pohon sembarangan yaa. Manfaatkanlah alam dengan bijak, bergantung dengan hutan tetapi hutan tetap dapat lestari. #LestariHutan

 Tentang


Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) merupakan organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan warisan DR. Sjahrir (Alm) dan bergerak di bidang Pendidikan, Kesehatan dan Lingkungan. Dalam dua tahun terakhir, YDS telah melaksanakan serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas kepada pemuda dan masyarakat akan pentingnya aksi nyata menghadapi perubahan iklim global, dan khususnya pentingnya menjaga kelestarian hutan. Salah satunya adalah talkshow bagaimana pengelolaan hutan lestari bersama Bloggers di beberapa kota dengan menampilkan mini exhibition  pada setiap keunggulan masing-masing daerah. Diharapkan kegiatan ini dapat disebar luaskan kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan hutan lestari di Indonesia.


The Climate Reality Project Indonesia merupakan bagian dari The Climate Reality Project yang berbasis di Amerika Serikat dan dipimpin oleh Mantan Wakil Presiden Al Gore, memiliki lebih dari 300 relawan, yang disebut climate reality leader di Indonesia yang fokus dan aktif dalam melakukan sosialisasi perubahan iklim dan mendorong masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi.

Thursday, March 21, 2019

7 Manfaat Pentingnya Menjaga Hutan


Banjir, longsor, kekeringan, dan udara yang tidak sehat serta hewan-hewan yang tidak mempunyai tempat untuk hidup semakin terdengar di telinga kita. Berbagai media telah mengabarkan berita yang membuat perasaan ini sedih dan terluka. Bagaimana bisa Indonesia yang berada di urutan ketiga sebagai hutan hujan tropis terbesar di dunia ini mengalami berbagai macam bencana alam yang diakibatkan oleh kerusakan hutan. Apa faktor penyebab rusaknya hutan Indonesia?

Rusaknya hutan yang diakibatkan oleh fenomena alam atau aktivitas alam itu sendiri seperti kebakaran hutan pada musim kemarau atau karena letusan gunung berapi tidak dapat dicegah atau dihindari.  Namun, faktor yang menjadi rusaknya hutan Indonesia ini adalah akibat ulah manusia (human destructions).
Penyebab kerusakan hutan akibat ulah manusia:
1.   Penebangan liar
Penebangan liar dilakukan oleh siapa saja yang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok. Misalnya warga sekitar yang membuka lahan pertanian ilegal. Selain itu,pengusaha yang memiliki atau tidak memiliki ijin juga melakukan penebangan liar di luar areal yang telah ditentukan.

Saya tinggal di Sumatera Selatan, hampir setiap hari puluhan mobil besar mengangkut kayu pohon yang sangat banyak untuk keperluan suatu perusahaan. Setiap melihat mobil-mobil tersebut lewat, saya membatin dari mana asal kayu pohon tersebut???

2.   Pembakaran hutan yang disengaja
Masyarakat yang membuka lahan pertanian dengan cara membakar, dapat menyebabkan kebakaran hutan yang luas dan lebih besar jika tidak terkendali. Membakar hutan untuk pembukaan lahan pertanian menjadi cara yang lebih mudah dan murah  tetapi dapat menyebabkan kerusakan hutan yang parah.

3.   Perambahan hutan
Menebang atau membabat pohon untuk membuka lahan pertanian. Hal ini dapat mengakibatkan kondisi hutan menjadi rusak.

4.   Perladangan berpindah
Perladangan berpindah adalah suatu sistem bercocok tanam yang dilakukan oleh masyarakat secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Perladangan berpindah memberikan kontribusi yang nyata terhadap kerusakan ekosistem hutan terutama pada pulau-pulau yang berukuran kecil. 

5.   Pertambangan
Usaha pertambangan yang dilakukan berbentuk pertambangan tertutup dan pertambangan terbuka. Pertambangan terbuka adalah pertambangan yang dilakukan di atas permukaan tanah. Bentuk Pertambangan ini dapat mengubah bentuk topografi dan keadaan muka tanah (land impact), sehingga dapat mengubah keseimbangan sistem ekologi bagi daerah sekitarnya; termasuk pertambangan yang dilakukan di areal hutan. Pertambangan terbuka menghilangkan semua vegetasi yang berada di permukaan karena tanah akan dieksploitasi dan diangkut untuk mengambil mineral tambang yang terkandung didalamnya.

6.   Transmigrasi
Kebijakan pemerintah untuk meratakan penduduk ke seluruh pelosok tanah air dengan program transmigrasi membawa dampak terhadap kerusakan hutan. Hutan dibuka untuk dibuat pemukiman transmigrasi, dan tiap transmigran mendapatkan lahan garapan seluas 2 hektar. Hutan primer maupun sekunder dibuka untuk kegiatan program pemerintah transmigrasi.

7.   Pemukiman penduduk
Dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan dasar akan perumahan semakin meningkat. Terbatasnya daerah yang dapat digunakan sebagai daerah pemukiman membuat kegiatan ini dilakukan pada areal-areal yang ditetapkan sebagai kawasan lindung. Daerah-daerah yang tidak sesuai dengan peruntukkannya, dipaksakan untuk dibuat pemukiman. Daerah berlereng terjal yang berbahaya juga ikut menjadi lokasi sasaran pembuatan rumah-rumah penduduk.

Manusia jaya, hewan-hewan tunawisma.

8.   Pembangunan perkantoran
Areal perkantoran tidak hanya terdapat pada daerah perkotaan yang ramai. Komplek perkantoran juga dibangun pada lahan-lahan hutan, terutama kabupaten yang baru dimerkarkan dari kabupaten induk. Kabupaten atau perangkat pemerintahan baru mencari dan membuka lahan hutan untuk membuat kawasan pemukiman, kawasan industri, kawasan perdagangan dan juga untuk areal perkantoran. Pembangunan yang terjadi ini akhirnya perlu dilakukan alih fungsi lahan.

9.   Pembangunan infrastruktur perhubungan
Transportasi sangat penting untuk kemajuan suatu daerah atau negara. Transportasi berhubungan dengan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, lapangan udara, pelabuhan dan lain-lain. Pembangunan infrastruktur perhubungan merupakan hal mendesak yang perlu dilakukan. Namun pembangunan tersebut dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Seperti pembangunan infrastruktur jalan, adakalanya harus memotong hutan pada kawasan lindung maupun kawasan konservasi. 

Pembangunan pelabuhan kapal yang dilakukan di pesisir pantai yang memiliki hutan pantai atau hutan mangrove sering merusakan keberadaan hutan-hutan tersebut. Dan banyak contoh lain yang dapat dilihat di sekitar kita, mengenai kerusakan lingkungan akibat pembangunan infrastruktur perhubungan.

10.Perkebunan kelapa sawit
Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit telah dilakukan pada beberapa daerah di Indonesia. Beberapa pihak yang pernah terlibat dan merasakan akibat pembangunan perkebunan kelapa sawit menjadi sadar akan dampak negatif dari kegiatan tersebut terhadap lingkungan. Keseimbangan ekosistem menjadi terganggu akibat penurunan biodiversitas, pencemaran lingkungan dari input peptisida yang berlebihan, sulitnya seresah kelapa sawit terdekomposisi dan pemulihan lahan kepada kondisi semula memerlukan waktu yang sangat panjang.

11.Konservasi lahan gambut menjadi sawah
Proyek pembangunan satu juta hektar lahan gambut menjadi sawah pernah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan mempertahankan swasembada beras. Akibatnya lahan hutan gambut menjadi berkurang dan dampak negatif yang ditimbulkan seperti meningkatnya bahaya kebakaran hutan, memberikan sumbangan terhadap pemanasan global, berkurangnya keanekaragaman hayati dan dampak negatif lainnya. Di beberapa daerah terdapat lahan gambut yang ditimbun untuk membangun suatu perusahaan.

12.Penggembalaan ternak dalam hutan
Kerusakan hutan akibat penggembalaan ternak dengan cara, ternak tersebut mengkonsumsi daun-daun dan semai-semai yang merupakan tumbuhan permudaan sebagai regenerasi dari hutan tersebut. Kerusakan lain yang terjadi juga seperti kerusakan batang akibat gigitan dan gesekan tanduk ternak. Pengembalaan ternak di dalam hutan menyebabkan pemadatan tanah hutan karena diinjak-injak oleh ternak. Hal ini akan mempengaruhi proses infiltrasi atau menyerapnya air ke dalam tanah menjadi berkurang sehingga proses runoff meningkat yang menyebabkan erosi di permukaan tanah.

13.Kebijakan pengelolaan hutan yang salah
Kerusakan hutan juga dapat terjadi karena kebijakan yang dibuat lebih memperhatikan dampak ekonomis dibandingkan dengan dampak ekologis. Selain itu juga perbedaan persepsi tentang kelestarian hutan kadang terjadi karena dasar pemahaman yang berbeda. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa kebijakan pengelolaan hutan yang salah dari pemerintah sebagai suatu “pengrusakan hutan yang terstruktur” karena kerusakan tersebut didukung oleh perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.


Persepsi dan pemahaman masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam terutama mengolah lahan-lahan milik mereka dengan menanam tanaman semusim yang lebih cepat menghasilkan dibanding dengan tanaman berumur panjang termasuk tanaman kehutanan. 


Kerusakan hutan akibat ulah manusia ini adalah hal yang sangat tidak dapat dicegah apabila tidak ada rasa cinta terhadap hutan. Dampak rusaknya hutan tidak terjadi seketika setelah manusia merusaknya, melainkan jangka panjang. Mungkin beberapa tahun kemudian.

Penting sekali menjaga hutan Indonesia ini dengan sebaik-baiknya. Karena jika tidak, apa kabar Indonesia beberapa tahun mendatang???
Sebagai generasi muda, sepatutnya dapat menjaga dan menyelamatkan hutan dari manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Karena di hutan-lah kita bisa hidup. Karena hutan-lah kita selamat. Mengapa? Karena hutan memiliki manfaat yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan di bumi ini.

7 Manfaat Pentingnya Menjaga Hutan

  1. Mengatur siklus air
  2. Mencegah banjir
  3. Mencegah kekeringan
  4. Mencegah erosi dan longsor
  5. Menghasilkan oksigen
  6. Menyerap dan menyimpan karbondioksida 
  7. Menjadi rumah untuk 10% jenis flora, 12% jenis mamalia, dan 17% jenis burung


Tulisan ini adalah bentuk dukungan saya dari petisi change.org #JagaHutan untuk mendorong perwujudan #HariHutanIndonesia agar keberadaan hutan Indonesia 
yang merupakan hutan terluas ketiga di dunia bisa sama-sama dirayakan 
oleh masyarakat Indonesia.



Sumber: (1) (2)  (3)
THEME BY RUMAH ES